Potensi Desa

1. Kesederhanaan Produk Industri Rumahan “Keset Bu Wiwik”

 Desa Sumbersuko terkenal dengan banyaknya sumber mata air yang dimanfaatkan  oleh masyarakat Desa Sumbersuko  untuk kebutuhan sehari-hari.  Selain karena banyaknya sumber air yang ada, Desa Sumbersuko juga terkenal dengan banyaknya industri rumahan yang memprodusksi berbagai macam peralatan rumah maupun kesenian. Salah satu industri rumah di Desa Sumbersuko adalah industri rumahan yang memproduksi keset. Industri rumahan tersebut adalah industri rumahan “Keset Bu Wiwik”. Sesuai dengan namanya, industri ini didirikan oleh seorang ibu yang bernama Ibu Wiwik. Pada awalnya “Keset Bu Wiwik” didirikan karena pada tahun 2002 Ibu Wiwik tidak mendapatkan pekerjaan yang dapat membantu suaminya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan memanfaatkan potongan kain-kain sisa yang dimiliki bu Wiwik, akhirnya bu Wiwik menjahit keset sesuai keahlian yang dimilikinya

Pada awal usaha ini, bu Wiwik dan suaminya menawarkan kesetnya dengan cara berkeliling ke toko-toko dengan jumlah yang banyak, awal mula ini yang membuat nama keset bu Wiwik mulai terkenal di masyarakat. Seiring berjalannya waktu mulai banyak toko-toko besar yang mulai melakukan permintaan keset bu Wiwik dengan jumlah yag besar, bahkan penjualannya telah sampai di Kota Situbondo. Seiring dengan telah meluasnya area pemasaran keset bu Wiwik ini, saat ini bu Wiwik telah mempunyai 3 orang pekerja yang membantu bu Wiwik untuk dapat menyelesaikan permintaan keset, namun 3 orang pekerja ini biasanya hanya memiliki tugas untuk merenteng sisa kain yang akan dijadikan untuk pembuatan keset sedangkan untuk menjahit rentengan-rentengan tersebut menjadi keset tetap dilakukan sendiri oleh bu Wiwik. Upah yang dibayarkan bu wiwik untuk pekerjanya ini yaitu 10 meter rentengan dihargai seharga Rp. 2000. Semua proses pembuatan rentengan ini bahan bakunya berasal dari ibu Wiwik sendiri, sedangkan para pekerja hanya bermodalkan tenaga dan kehalian saja.

Area pemasaran yang telah luas ini membuat bu Wiwik melebarkan jenis barang dagangannya yang pertama hanya keset, saat ini telah terdapat berbagai macam barang yang dibuat oleh bu Wiwik, yaitu sarung sapu dan tas. Harga yang dipasarkan oleh industri rumahan “Keset Bu Wiwik” ini memiliki harga yang terjangkau bagi masyarakat sehingga memudahkan untuk menarik perhatian masyarakat untuk membeli. Salah satu produk yang dihasilkan bu Wiwik yaitu sarung sapu yang memiliki harga Rp. 2000, keset dengan ukuran kecil seharga Rp. 5000 sedangkan untuk yang berukuran sedang memiliki harga Rp. 15000 serta untuk produk tas memiliki harga Rp. 30.000.

2. Kesenian di Dusun Lawangsketeng

Keberadaan industri kecil rumah tangga membantu sektor perekonomian dan pendapatan masyarakat di Dusun Lawangseketeng. Salah sau industri kecil rumah tangga yang ada di Dusun Lawangsketeng adalah pembuatan Singo Ulung dan topeng. Industri kecil tersebut dibuat oleh salah satu warga Dusun Lawangsketeng yaitu bapak Sahwito atau lebih dikenal dengan bapak Ferdi. Bapak Ferdi memiliki bakat sejak SD yang didapatkan dari keluarganya. Beliau kemudian sering mengikuti berbagai lomba dalam pembuatan karya seni rupa. Karena keterbatasan biaya untuk sekolah, Bapak Ferdi tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah. Beliau kemudian mulai mengembangkan bakatnya dalam bidang karya seni rupa, salah satunya yaitu topeng. Sekitar tahun 1976 beliau mulai membuat macam-macam topeng yang kemudian diperjual belikan. Topeng yang dibuat pertama kali oleh Bapak Ferdi adalah topeng desa-desaan. Dengan keahlian yang dimiliki oleh beliau, topeng- topeng tersebut semakin memiliki popularitas di kalangan masyarakat sekitar. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak masyarakat yang memesan topeng yang dibuat oleh Bapak Ferdi. Bapak Ferdi mulai banyak membuat jenis-jenis topeng seperti Bagong, Januko, Semar, Srikandi, Sumbrodo, dan yang lain bergantung pada pemesanan. Harga satu topeng dipatok dengan harga Rp.150.000,00. Selain pembuatan topeng, beliau juga membuat Singo Ulung. Pembuatan Singo Ulung tersebut juga tergantung pada pemesanan. Kepala Singo Ulung terbuat dari kayu dadap, sedangkan badannya terbuat dari jaring dan tali rafia. Singo Ulung berukuran kecil dipatok harga sekitar Rp.400.000,00 sedangkan untuk ukuran besar sekitar Rp.1.500.000,00. Pemasaran Singo Ulung tersebut melalui mulut ke mulut. Pemasaran  sudah mencapai Kalimantan, tetapi masih banyak pemesan dari Pulau Jawa.

3. Kuliner di Dusun Talpek

Keberadaan industri kecil rumah tangga membantu sektor perekonomian dan pendapatan masyarakat di Dusun Talpek. Salah satu industri kecil rumah tangga yang ada di Dusun Talpek adalah pembuatan roti. Industri kecil rumah tangga tersebut dibuat oleh salah satu warga dari dusun Talpek. Beliau bernama Daniar. Daniar merupakan salah satu sarjana bahasa Inggris dari Universitas Muhammadiyah Jember. Daniar bisa membuat roti dikarenakan ketika dia masih menjadi mahasiswa, dia merupakan seorang yang aktif dalam mengikuti berbagai acara pelatihan pembuatan kue oleh chef-chef. Daniar kemudian  memilih untuk melanjutkan membuat kue karena memang sejak kuliah dia sering membuat kue atau masakan yang lainnya. Daniar menceritakan bahwa dulu, keluarganya memiliki lahan singkong, di mana harga singkong 1 lahan hanya mendapatkan sekitar Rp.3.000.000,00. Daniar berfikir jika singkong dapat dijual lebih mahal, kemudian beliau memilih untuk membuat brownies singkong yang dipasarkan melalui door to door seperti di sekolah-sekolah. Modal awal yang digunakan oleh Daniar sekitar Rp.2.000.000,00 dan keuntungan yang didapatkan sekitar Rp.3.000.000,00.  Daniar sekarang mulai mengembangkan berbagai jenis roti seperti donat, brownies, pudding, dan kue tart untuk pernikahan maupun acara lainnya. Harga kue  ditentukan oleh ukuran dan kualitas kue yang dipesan. Pemesanan kue yang dibuat oleh Daniar mencapai Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Pengiriman jauh masih belum bisa dilakukan karena Daniar sangat menjaga kualias, dan bentuk barang. Bisnis tersebut sudah berkembang hingga sekarang pemasaran sudah melalui media online seperti Whatsapp dan Facebook.

4. Sumber Kebahagiaan Desa

Nama Sumbersuko memiliki arti tersendiri di mata masyarakat Desa Sumbersuko. Bagi masyarakat sekitar, nama Sumbersuko berasal dari kata sumber dan suko. Sumber berarti sumber dan suko berarti kebahagiaan, maka Sumbersuko memiliki arti sumber kebahagiaan. Hal ini dihubungkan dengan banyaknya sumber mata air atau yang sering disebut sumber oleh masyarakat lokal. Anak-anak seringkali bermain dan berenang di sumber mata air. Canda dan tawa mereka menggambarkan kebahagiaan yang terpancar saat mereka bermain dan berenang di sumber.

Desa Sumbersuko terbagi menjadi empat wilayah dusun dan di setiap dusunnya memiliki sumber mata air. Desa Sumbersuko adalah salah satu desa yang memiliki banyak sumber mata air. Jumlah sumber mata air di Desa Sumbersuko kurang lebih sekitar enam sumber. Sumber terbanyak berada di Dusun Krajan 2 yakni ada sekitar lima sumber. Sedangkan sumber lainnya berada di Dusun Krajan 1.

Sumber mata air di mata masyarakat Sumbersuko merupakan salah satu sarana untuk melakukan aktivitas rutin mereka. Warga desa Sumbersuko mulai dari anak-anak hingga lansia banyak memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk digunakan sebagai sarana mencuci pakaian dan mandi. Selain itu, sumber-sumber tersebut di antaranya juga digunakan sebagai tempat pengambilan air minum oleh warga. Hal ini tentunya menjadi nilai tambah bagi masyarakat Desa Sumbersuko karena memiliki sumber mata air gratis dan dapat dinikmati kapan saja oleh seluruh warga dari dalam ataupun luar desa.